ROH KUDUS DAN PENTAKOSTA

By: RD V RUDY HARTONO (Ketua Komisi Kateketik KAJ)

SIAPAKAH ROH KUDUS

Dalam Gereja Katolik selain BAPA dan PUTERA, masih ada pribadi ketiga yang tak kalah pentingnya, ialah ROH KUDUS. Dialah Roh Pencipta, bukan ciptaan (Konstantinopel). Kita ingat apa yang dikatakan oleh Santo Ambrosius dalam refleksinya tentang Roh Kudus, ia mengatakan bahwa Roh Kudus adalah Roh Pencipta. Lihat dalam kisah awal mengenai penciptaan universe (alam semesta), Roh Kudus menciptakan langit dan bumi bersama Bapa dan Putera. Semula keadaan kacau balau (chaos), tetapi kemudian menjadi harmonis dan indah. Bahkan disebutkan oleh Anastasius (abad 4) bahwa Roh Kudus bersekutu dengan Pencipta sendiri.

Kita tahu bahwa menciptakan bumi adalah rencana Bapa. Dalam perjalanan sejarahnya membutuhkan ratusan tahun,- dari keadaan chaos kepada keadaan sempurna- dimana karya Roh Kudus ikut menyempurnakan keadaan kacau balau. Roh Kudus menjadi penuntun manusia dalam keterlibatannya menyempurnakan keadaan chaos (kacau balau) menjadi semakin harmonia praestabilita. Di sini kita bermenung: kitapun akan diubah dari keadaan kacau balau kehidupan hanya oleh Roh Kudus menuju kepada kebaharuan. Kita mengakui ada begitu banyak kekacauan hidup karena ketidakaturan. Marilah kita panggil Roh Kudus supaya mendatangi hidup kita. Come creator spirit!, begitulah manusia memohon kepada Allah.

PERISTIWA PENTAKOSTA (Kis 2: 1 – 4)

Dalam umat perdana kita melihat bahwa mereka bertekun dan saleh berkumpul dalam persekutuan iman. Mereka berdoa tak kunjung putus, berkumpul memecah-mecahkan roti. Ternyata mereka malah mengalami peristiwa yang membuat kagum dan penuh keheranan, yaitu mereka mengalami kepenuhan Roh Kudus (ay 4).

Kehadiran Roh Kudus dijumpai oleh mereka dalam rupa ‘lidah-lidah api’ dan didahului dengan tanda bunyi seperti tiupan angin keras serta akhirnya berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain (yang diberikan Roh Kudus kepada mereka). Apa yang nampak jelas mereka katakan dalam bahasa-bahasa lain itu tak lain adalah kesaksian mereka akan Yesus Kristus , orang Nazareth, yang ditentukan Allah dan yang menyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan, mukjijat-mukjijat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah…yang telah kamu salibkan…dan kamu bunuh..oleh tangan bangsa-bangsa durhaka…tetapi Allah membangkitkan DIA dari sengsara maut…(Kis 2:22-24). Inilah pokok KATEKESE, yakni mewartakan Yesus Kristus yang wafat dan bangkit dari antara maut.

Kita ingat bahwa Ekaristi adalah pentakosta baru. Dengan merayakan Ekaristi yang bertanda ‘roti dan anggur’-àTubuh dan Darah, kita mengalami realita kehidupan baru, yaitu kehidupan yang penuh pengharapan di dalam nama Yesus. Seperti Yesus dalam peristiwa Pentakosta,- dalam Sinagoga melihat para murid,- demikian juga dalam retret ini Yesus memandang kita dan akhirnya memberi hidup dan nafas baru. Sabda Yesus,” Terimalah Roh Kudus!”

Kita bertanya dalam diri kita masing-masing: Apakah kita mau menerima Roh Kudus atau malah kita takut untuk menerimaNya? Menerima Roh Kudus memang berarti menerima perubahan (krn Roh Kudus akan mengubah hidup kita). Kita lihat bagaimana misteri Roh Kudus yang hadir itu dalam seluruh peristiwa Yesus, yakni melalui Misteri Penjelmaan, Misteri Kebangkitan, Misteri Pentakosta dan Misteri kedatangan Kristus pada akhir dunia nanti.

Kita mengenali kehadiran Roh Kudus dalam peristiwa Pentakosta itu, ialah lewat tanda pendengaran (bunyi-bunyian seperti tiupan angin keras), melalui lidah-lidah api, ataupun tanda-tanda peristiwa lain. Angin dalam makna simbolis adalah tanda nafas…dan nafas dalam bahasa Yunani diterjemahkan sebagai RUAH.

Manakala kita membaca Kis 2: 1-4 plus 22-24, bahkan mungkin kerapkali kita mendengarkan bacaan ini sesering mungkin: daya getar apakah yang dapat kita rasakan?!? Mari kita coba lihat para rasul keadaannya beda antara sebelum dan sesudah mereka menerima Roh Kudus.

Roh Kudus adalah cinta pribadi dari BAPA yang menjadi lambang terang dan kebahagiaan. Dengan lambang terang dan kebahagiaan, Roh Kudus adalah tanda KASIH (yang dipenuhi KASIH). Maka mengasihi pada hemat saya adalah tanda kehadiran Roh Kudus dan sifatnya mengubah diantara sebelum dan sesudahnya. Bdk, Paulus yang mengungkap cinta Allah sebagai cinta yang tak berlawanan, bahkan ditegaskan oleh Paulus agar semua orang boleh merasakan dibaptis oleh Roh Kudus. (Rm 5:5).

Oleh karena itu, PENTAKOSTA adalah peristiwa bersejarah, bersifat universal, karena Bapa  mengutus Roh Kudus dalam Yesus. Peristiwa Pentakosta memberi arti dan makna yang sangat mendalam dimana Roh Kudus membagi hidup dalam karya penciptaan untuk mengalami KASIH ALLAH. Di sini kita bisa bertanya: Sudahkah kita menjadi ANAK ALLAH yang penuh?

Kita bisa membayangkan seandainya jutaan orang beriman menyelami peristiwa Pentakosta: mereka masuk dalam ‘sinagoga’ kemudian mengalami miracle dan kita berpedoman pada janji Yesus yang mengatakan bhw Bapa akan memberi apa kita minta daripadaNya, maka kita akan mengalami apa yang dikatakan dalam peristiwa ‘Gunung Karmel Elia’, pasti akan berakibat: jutaan orang beriman akan mengalami kekuatan dan penyembuhan. Lihatlah Allah mencintai KITA. Justru dalam Ekaristi kita akan disadarkan akan misteri cinta Tuhan yang hadir pada kita.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

downloadfilmterbaru.xyz nomortogel.xyz aplikasitogel.xyz hasiltogel.xyz paitogel.xyz