“RETORIKA KATEKESE“ OLEH DR. EKA WENATS (Tim TEKAD KOMKAT KAJ)

Saya ingin menawarkan sebuah inisiatif untuk memberi masukan bahwa kita masih mempunyai perhatian pada karya keselaamatan Allah. Saya katakan katekese retorika atau retorika public speaking inisiatif utk karya katekese 2014.

Kita sedang berjuang dalam karya pewartaan. Pewartaan menjadi inti Gereja yang hidup sampai sekarang. Gereja KAJ mempunyai visi “memperdalam iman akan Yesus Kristus”. Memperdalam iman akan Yesus ini yang saya garis bawahi. Itulah tugas utama seorang katekis. Jakarta adalah kota urban, juga kota satelit: tangerang,Cikarang bekasi. Masyarakat Sangat beragam: ekonomi, budaya, tingkat pertumbuhan umat, luas geografis: 8 dekenat, 63 paroki. Jika dilhat dari statistik jumlah umat menumpuk di bekasi, tangerang, barat 2.25 % di barat dan timur.  Karakteristik wilayah satelit banyak orang muda tetapi bekerja di kota Jakarta sehingga tempat tinggal 25%. Jumlah Pastor 325 orang. 60 pastor diosesan.

Mengapa saya menawarkan retorika? Packaging, kemasan pewartaan, dan penggunaan akan media sangat penting. Hal itu sebetulnya juga sudah ada sejak jaman Yesus sampai sekarang. Era post pantekosta, kemudian para Bapa Gereja juga melakukanya. Sehingga retorika itu masih penting meski terjadi peningkatan teknologi media. Etos:kredibilitas, patos: emosi, logos:bahasa masih signifikan bagi masyarakat modern. Ada orang logosnya bagus tapi patosnya acak adul. Emosi baik, etos baik tapi knowledge tidak. Sebenarnya ada hubungan segitia jika melaksanakan katekese retorika yaitu dengan  memperhatikan etos, patos dan logos sehingga pewartaan akan menjadi lebih efektif dengan kekuatan tindakan/teladan.

Katekis memerlukan pengembangan, profesionalisasi dan kaderisasi. Pengembangan soal pengetahuan: ajaran, tradisi Gereja (kontekstualisasi, penyegaran) meski ada katekismus, knowledge transfer, sharing, ada katekis senior/yunior dsbnya (kaderisasi). Soal reward/apresiasi: mempunyai waktu mempersiapkan perjalanan, persiapan, ekspresi perlu dihargai.Upaya jerih payah dihargai dengan bbg macam bentuk.  Ada standarisasi/kualifikasi, misalnya katekese anak-anak, kualifikasi macam apa yang dimiliki oleh seorang katekis. Tidak hanya asal ya sudah mengajar anak-anak atau siapa. Kita melihat pertumbuhan umat banyak, tapi makin lama romo semakin sedikit, umat bertanggungjawab membangun Gereja. Saya kira Gereja perdana didirikan oleh umat, bukan didirikan oleh para Klerus. Ada asuransi, kontrol kualitas dan proses pendampingan/magang/nyantrik.

Saya menawarkan kurikulum retorika/public speaking untuk mengupgrade kemampuan berkomunikasi, entah antar pribadi/kelompok. Karena Tugas katekis berkaitan banyak berkomunikasi dengan pribadi/klmpk. Latihan Bentuknya bermacam-macam pertemuan, misalnya karantina lewat resami (retorika sabtu-minggu) utk menjadi katekis2tangguh, inti. Fasilitator jelas kerjasama dengan Komisi Kateketik. 30% teori, 70% praktek. Bicara ttg katekis, apa yang harus dilakukan untuk umat (aplikatif). Penilaian dengan tugas akhir. Berani melakukan asuransi/jaminan bhw nanti yang keluar dari pola ini harus matang setelah pembinaan. Materi: penguasaan etos, patos dan logos.

Retorika adalah kemampuan dasar utk bisa menjadi komunikator yang baik dan melakukan tindakan informasi dan sosialisasi pewartaan untuk melakukan persuasi sosial: mempengaruhi, membujuk untuk semakin dalam imannya, semakin bijak/merefleksikan  karena masyarakat kota daya refleksinya atas pengalaman hidupnya sangat kurang, yang penting jalan saja, tidak ada unsur refleksi shg ritual saja. Materi pertama adalah: Pengenalan diri, pengenalan sosial, mengatasi gangguan pribadi. Berbicara pewartaan soal messege, audience, komunikator (masalah etos).

Apa bagusnya Mario Teguh: pintar memainkan/memilih kata-kata, spontan menatap mata, ini kan juga diperlukan katekis. Metode persiapan materi: fisik, konten, media. Bahan dan materi harus dipersiapkan. Para katekis jangan menjadi tape recorder. Karena pesan2 katekis bisa terdengar umum tetapi bisa menyentuh pribadi hati orang perlu teknik, penguasaan diri (anak nangis, ngomon udah keringatan). Metode pengelolaan emosi itu penting untuk menarik perhatian orang. Materi ketiga bicara Pengelolaan logos bisa  ber.impact. Strategi dan penyampaian pesan. Mengajar tidak hanya dengan omongan tetapi juga ada persiapan atau strategi dengan film, harus ada strategi/persiapan. Kapan kita memproduksi kata keras atau lembut. Bagaimana disampaikan di power poin. Orang cndrg tertarik dengar dan pandang. Misalnya saya banyak berbicara tentang pengorbanan anak sulung Allah (Ditayangkan film/video klip 5 menit) ………..

Tidak banyak kata memainkan rasa, emosi tetapi pesan masuk dan pengalaman yang manusiawi tidak langsung pengalaman teologis. Ketrampilan ini hrs dimiliki oleh katekis untuk membahasakan, tidak harus linear. Keberanian melakukan dialog/interaksi sehingga pengetahuan semakin dimiliki oleh katekis. Ketrampilan menggunakan teknologi perlu dimiliki oleh katekis. Karena di jakarta tidak jauh dari ipad, internet, smartphone. Ini menjadi seri iman. Ini mau tidak mau ada pelatihan khusus. Inilah yang saya sampaikan tentang tantangan dan peluang katekese di Jakarta.>

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

downloadfilmterbaru.xyz nomortogel.xyz aplikasitogel.xyz hasiltogel.xyz paitogel.xyz