KATEKESE YANG HAMBAR DAN MEMBOSANKAN*)

Oleh: Petrus Danan Widharsana

Salah satu hasil dari Sidang KWI yang diselenggarakan pada bulan November 2011 adalah sebuah pesan pastoral tentang Katekese. Di dalam pesan pastoral tersebut disadari kembali pentingnya katekese dalam kehidupan Gereja. Dikatakan “Gereja mempunyai tugas utama untuk mewartakan, sesuai perintah Kristus: “…. pergilah, jadikanlah segala bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (Mat 28:19-20). Perintah Kristus ini menjadi dasar perutusan Gereja dalam karya katekese.”

Sungguh menggembirakan bahwa para pimpinan Gereja menekankan kembali pentingnya katekese dalam kehidupan Gereja. Tentu hal ini tidak lepas dari kenyataan di lapangan yang sering menempatkan katekese pada posisi yang “hambar dan membosankan”. Seperti disinyalir oleh para Bapa Uskup  “Isi katekese seringkali dirasakan kurang memadai. Di satu pihak, katekese yang memberi tekanan pada tanggapan iman atas hidup sehari-hari seringkali kurang memberi tempat pada aspek doktrinal, sehingga umat seringkali canggung dan takut ketika berhadapan dengan orang-orang yang mempertanyakan iman mereka. Di lain pihak, ketika katekese lebih memberi perhatian pada unsur-unsur doktriner, katekese dirasakan menjadi terlalu sulit bagi umat dan kurang bersentuhan dengan kenyataan hidup sehari-hari. Katekese yang kurang menyentuh hati dan memenuhi harapan ini rupanya merupakan salah satu alasan yang mendorong sejumlah orang katolik, khususnya anak-anak dan orang muda yang pindah dan lebih tertarik cara doa dan pembinaan Gereja-gereja lain yang dirasakan lebih menarik.” Ada nada keprihatinan dalam Pesan Pastoral ini. Tak dapat disangkal, kemunduran kegiatan katekese berarti kemunduran Gereja. Namun, betapa sering hal ini kurang mendapatkan perhatian serius baik di kalangan para pastor, maupun umat. Yang memprihatinkan, kegiatan katekese sering dikalahkan oleh kegiatan mencari dana, pembangunan ini dan itu, bahkan kegiatan pesta-pesta paroki, yang memang jauh lebih menarik dan membanggakan daripada kegiatan katekese.

Masalah Isi dan Matode Katekese

Berbicara tentang isi katekese tentu kita tidak bisa melepaskan diri dari pokok-pokok iman sesuai dengan Ajaran Gereja. Dalam hal ini sebenarnya tidak banyak perubahan. Sebagian besar doktrin Gereja tidak berubah dari awal berdirinya hingga sekarang. Sahadat iman kita tetap. “Credo” yang diyakini sebagai ringkasan iman kita dan diikrarkankan sejak abad-abad pertama hingga sekarang tidak berbeda sama sekali.

Kalau para Bapa Uskup menyatakan pentingnya menghubungkan aspek doktrinal dengan kehidupan sehari-hari, masalahnya tentu bukan pada isi melainkan pada metode. Di sinilah pada umumnya letak “hambar dan membosankan”-nya kegiatan katekese. Mengapa? Karena pokok-pokok iman itu diajarkan sebagai suatu dogma yang harus diterima, kalau bisa dihafal, dan tidak perlu dipertanyakan. Orang harus berbuat ini dan itu, harus tunduk ini dan itu, harus hidup seperti ini dan itu, tanpa memperhatikan sikap kritis manusia, kondisi konkrit manusia dan kebutuhan manusia untuk memahami pokok iman tersebut secara lebih dalam. Contoh: zaman sekarang tidak cukup kita mengajarkan Doa “Salam Maria” hanya sebagai doa yang harus dihafalkan. Orang Katolik sendiri banyak yang mempertanyakan mengapa kita harus berdoa “Salam Maria”. Ini menuntut suatu penjelasan yang sangat mendasar, yang tidak cukup dijawab dengan beberapa kalimat saja. Perlu dipersiapkan dengan matang suatu pengajaran yang didasarkan pada Alkitab, Tradisi Gereja dan praktek-praktek liturgi. Perlu dibahas satu per satu keberatan-keberatan dari Gereja lain yang sering diajukan berkaitan dengan penghormatan kepada Maria. Penjelasan yang alkitabiah, jelas dan tuntas sangat diperlukan. Contoh lain: zaman sekarang tidak cukup kita mengajarkan “Tritunggal Mahakudus” sebagai dogma saja, sebab di luar orang berhadapan dengan umat dari agama lain yang mempertanyakan dogma tersebut. Ini menuntut penjelasan yang dapat diterima oleh pihak lain, baik dari sisi alkitab maupun rasionalitas. Kebanyakan orang Katolik merasa “mentok” pada “inilah dogma Gereja”. Jika tidak ada suatu penjelasan yang bisa meyakinkan orang Katolik sendiri mustahil katekese menjadi sesuatu yang menarik, sebab katekese tidak menambah apapun bagi pemahaman iman mereka. Bagaimana mungkin ini diterjemahkan dan dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari? Inilah salah satu tugas penting katekese pada zaman ini.

 

Pentingnya sensitivitas dan kreativitas

Dalam pesan pastoralnya itu, para Uskup juga menyatakan: “Kenyataan ini menantang kita untuk lebih bersungguh-sungguh menciptakan dan mengembangkan model katekese yang bermutu dan menanggapi harapan.” Ungkapan ini menuntut sensitivitas dan kreativitas pihak-pihak yang bertanggungjawab di bidang katekese, khususnya para pelaksana katekese di lapangan di bawah pimpimnan para pastor paroki. Dewasa ini banyak para katekis yang berjalan sendiri. Mungkin mereka diberi buku referensi oleh para pastornya, tetapi mereka tidak dibekali dengan suatu pembaruan, baik di bidang iman maupun metode pengajaran. Akhirnya kegiatan katekese yang mereka jalankan kembali ke praktek dogmatis yang hambar dan membosankan.

Kalau kita jeli sebenarnya tersedia banyak cara untuk melakukan pembaruan di bidang katekese. Zaman dulu para katekis biasa menggunakan sebuah terbitan yang disebut “Katekismus Jerman” yang pasti tidak relevan lagi untuk zaman sekarang. Namun jangan salah, pada tahun 1985 Konferensi Uskup Jerman telah menerbitkan “Katekismus Jerman” yang baru, sebagai buku panduan untuk para katekis dan katekumen “Katolischer Erwachsenen Katechismus: Das Glaubensbekenntnis der Kirche” (“Katekismus Katolik untuk Orang Dewasa: Pengakuan Iman Gereja”), yang benar-benar berusaha menjawab kerinduan umat Katolik akan pemahaman yang mendasar tentang iman mereka. Buku-buku seperti ini bisa banyak memberi inspirasi untuk membuat katekese kita bermutu dan menaggapi kerinduan umat.

Multimedia, khususnya internet, memberikan sumber-sumber tak terbatas tentang berbagai permasalahan iman dan jawaban yang bisa kita berikan. Jika kita bisa memanfaatkan sumber-sumber tersebut dengan baik, banyak inspirasi yang bisa kita dapatkan untuk menjawab berbagai macam permasalahan iman di kalangan umat. Di samping itu, produk-produk audio-visual yang bersumber pada kisah-kisah Alkitab, juga menawarkan suatu sarana menarik yang bisa digunakan dalam katekese. Saat ini Injil Lukas, Matius dan Yohanes sudah dibuat filmnya. Demikian juga kisah-kisah alkitabiah yang lain. Dengan program komputer sederhana, kita bisa mengedit bahan-bahan tersebut sedemikian rupa, misalnya mencuplik dan menggabungkan kisah Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru, sehingga bisa menjadi alat bantu mengajar yang sangat menarik. Zaman ini manusia dibanjiri dengan berbagai sarana audio-visual, seperti TV, CD/DVD, Internet, dsb. Mengapa kita tidak juga memanfaatkan sarana itu dalam kegiatan katekese? Semakin banyak indera yang dirangsang, semakin banyak dan lama bahan pengajaran itu tertanam di hati kita. Sebagai alat bantu mengajar, sarana-sarana tersebut akan menjadikan katekese menyentuh hati. Apalagi kalau isi dari katekese itu sendiri sudah disusun sedemikian rupa sehigga  bermutu dan menanggapi harapan umat.

Mungkin ada yang berpendapat bahwa bahan-bahan seperti tersebut di atas tentu sangat mahal. Dewasa ini, perlengkapan seperti tersebut di atas tidak lagi dianggap sebagai barang mewah. Tambahan pula para Uskup dalam Pesan Pastoralnya juga mengatakan: “Salah satu tanda bahwa karya katekese merupakan prioritas utama dalam Gereja ditampakkan dalam dukungan finansial bagi program-program katekese maupun bagi pembinaan dan penghidupan para petugas pastoral yang berkarya di bidang katekese.”

Nah, apakah kita mau memahami bahwa katekese adalah prioritas utama dalam kehidupan Gereja dan dengan demikian juga mau membenahi dan memperbarui katekese kita?

*) Tulisan ini dimuat di Majalah Hidup, Edisi 50 tahun ke-65,  tanggal 11 Desember 2011, hal. 14-15

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

nomortogelku.xyz