KATEKESE KELUARGA DI ERA DIGITAL

Oleh: Liria Tjahaja

Pendahuluan

Perkembangan dunia dewasa ini ditandai dengan adanya perkembangan yang sangat pesat dalam tehnologi digital yaitu suatu tehnologi canggih dengan sistem komputer.  Tehnologi digital yang juga disebut sebagai media baru tersebut, memiliki karakteristik antara lain : dapat dimanipulasi, bersifat jaringan dan interaktif.  Beberapa contoh media digital antara lain : internet, multimedia, permainan (games) dalam komputer, black berry, dsb. Semakin canggihnya tehnologi digital masa kini membawa dampak yang cukup besar dalam kehidupan manusia, apalagi keberadaannya menjangkau berbagai lapisan masyarakat dari berbagai kelas.  Kenyataan menunjukkan bahwa perkembangan tehnologi ini juga turut mengubah cara pandang masyarakat tentang berbagai masalah/persoalan yang ada di muka bumi ini.

Di satu sisi, perkembangan media digital tersebut, telah memudahkan manusia dalam mengakses informasi lewat berbagai cara. Namun di sisi lain, kemajuan ini juga menimbulkan persoalan yang tidak sedikit, karena semakin “menggilas” nilai-nilai kehidupan yang terdapat dalam masyarakat. Contohnya : Nilai relasi manusia secara personal menjadi kurang dihargai. Perjumpaan manusia satu dengan lainnya mulai terkikis karena masing-masing sibuk dan menyibukkan dirinya dengan media informasi dan komunikasi yang semakin canggih.

Dampak dari perkembangan media digital ini, juga dialami oleh banyak keluarga, tak terkecuali keluarga-keluarga Katolik.  Maka berikut ini saya kutip sebuah puisi dari seorang anak kelas IV SD Bellarminus yang mengungkapkan isi hatinya tentang bagaimana pengaruh media digital bagi kehidupan keluarganya dan juga terhadap relasi di antara anggota keluarga yang ada.

Ibu & Facebook
Oleh : Serafina Ophelia Simanjuntak (Kelas IV SD)

Ibu,
Facebook,
Hubungannya erat sekali
Setiap hari
Sehabis mandi
Selesai makan
Sehabis apapun
Dalam hatiku,
Aku berpikir
Mau kemana gerangankah ia?
Notebook
Tapi…
Apa yang selalu ia lihat di notebook?
Facebook!
Setiap hari
Tawanya menggema
Sampai kapankah
hubungan erat antara ibu dan facebook?
Mungkin sampai akhir hayatnya
Notebooknya akan dibawanya
Ke Surga…

 

Bertolak dari puisi seorang anak di dalam keluarga (yang dipublikasikan lewat You Tube), dapat ditemukan bahwa media digital yang tampil melalui notebook dan dalam jaringan facebook, ternyata memiliki pengaruh yang cukup besar untuk hidup keseharian manusia zaman ini. Media yang ada dapat membuat orang begitu asyik dengan dirinya sehingga lupa dengan waktu dan juga lupa dengan kewajibannya. Maka melalui kesempatan Pertemuan Komisi Kateketik Regio Jawa ini, kita bersama-sama sebagai pewarta diharapkan melihat persoalan dan tantangan pewartaan kita masa kini, khususnya bagi keluarga. Kiranya perlu ditemukan model-model katekese keluarga yang tepat untuk membantu keluarga-keluarga dalam menghadapi gelombang era digital yang mempengaruhi kehidupan setiap keluarga.

Panggilan dan perutusan setiap keluarga Kristiani

Sebagai Gereja kecil/Gereja rumah tangga (“Ecclesia domestica”), setiap keluarga kristiani dipanggil dan diutus untuk menjadi saksi kasih Kristus di tengah dunia. Dalam salah satu artikel di dalam Dekrit Kerasulan Awam, dikatakan bahwa :

 Para suami-isteri kristiani bekerja sama dengan rahmat dan menjadi saksi iman satu bagi yang lain. Bagi anak-anak mereka dan kaum kerabat lainnya. Bagi anak-anak mereka, mereka itulah pewarta iman dan pendidik yang pertama. Dengan kata-kata maupun teladan suami-isteri membina anak-anak untuk menghayati hidup kristiani dan kerasulan. Dengan bijaksana suami-isteri membantu mereka dalam memilih panggilan mereka, dan – sekiranya barangkali terdapat panggilan suci pada mereka, – memupuk itu dengan perhatian sepenuhnya.” (AA.11).

 

Dengan perutusan ini, setiap keluarga Kristiani diharapkan mampu bertanggungjawab dalam menumbuhkembangkan nilai-nilai Kristiani di dalam kehidupan keluarganya. Hal ini juga berarti siap untuk mengantisipasi segala hal yang mengancam kehidupan beriman yang dihadapi oleh setiap anggota keluarganya.

Kenyataan abad ini menunjukkan bahwa media digital yang hadir dan menjangkau kehidupan keluarga-keluarga masa kini, melalui pengaruhnya telah turut menanamkan nilai-nilai kehidupan tertentu dalam kehidupan keluarga, dan turut mempengaruhi perubahan cara pandang ataupun sikap hidup orang dalam membangun kehidupan keluarga. Dalam menghadapi era digital saat ini, setiap keluarga, khususnya ayah dan ibu di dalam keluarga diharapkan mampu membekali putra dan putrinya dengan pendasaran nilai-nilai kehidupan yang dapat membantu putra-putrinya agar tidak tenggelam dalam pengaruh media digital. Demikian pula di dalam keluarga-keluarga kristiani, setiap orangtua juga diharapkan mampu memberikan pewartaan dan pewarisan iman Kristiani bagi anak-anak yang menjadi tanggung jawabnya.

“Perutusan mendidik meminta orangtua Kristen, untuk menyampaikan kepada anak-anak mereka semua pokok yang dibutuhkan, supaya anak-anak tahap demi tahap menjadi dewasa kepribadiannya ditinjau dari sudut Kristen maupun gerejawi. …. Karena pelayanan mereka sebagai pendidik, orangtua melalui kesaksian hidup mereka, menjadi duta Injil yang pertama bagi anak-anak mereka. Selain itu, dengan berdoa bersama anak-anak, dengan membaca sabda Allah bersama mereka, dan dengan mengantarkan mereka melalui inisiasi Kristen, untuk secara mendalam menyatu dengan Tubuh Kristus – baik Tubuh Ekaristi maupun Tubuh Gereja – mereka menjadi orangtua dalam arti sepenuhnya, yakni dengan menumbuhkan bukan saja kehidupan jasmani, melainkan juga kehidupan yang berkat pembaharuan dalam Roh bersumber pada Salib dan Kebangkitan Kristus”  (FC.39)

 

Namun demikian, seperti halnya Gereja, di dalam setiap keluarga Kristiani seharusnya menjadi tempat dimana Injil diteruskan dan dari mana Injil bercahaya. Dalam dokumen Evangelii Nuntiandi diungkapkan bahwa :

“ Di dalam suatu keluarga yang sadar akan perutusan tadi, semua anggota melakukan evangelisasi dan menerima evangelisasi. Orangtua tidak hanya mengkomunikasikan Injil kepada anak-anak mereka, tapi dari anak-anak mereka orangtua sendiri dapat menerima Injil yang sama, seperti yang dihayati secara mendalam oleh mereka” (EN..71)

 

 

 

Ancaman terkikisnya nilai-nilai hidup keluarga

Bukan pemandangan yang asing bila melihat sebuah keluarga duduk bersama di meja makan, tetapi masing-masing sibuk dengan Black Berry nya.  Kelihatannya secara fisik memang mereka duduk bersama, namun hidup dalam dunianya masing-masing. Nilai kedekatan dan relasi pribadi yang seharusnya ditumbuhkan secara terus menerus dalam kehidupan keluarga lama kelamaan dapat saja menjadi terkikis dan bahkan terlupakan.  Hal yang menjadi ancaman adalah ketika suatu keluarga yang seharusnya menjadi suatu komunitas kasih, tidak lagi hidup sebagai komunitas, melainkan hanya hidup layaknya sekumpulan pribadi-pribadi yang tinggal di dalam satu rumah, namun tidak memiliki rasa keterikatan satu sama lain.  Setiap orang hanya sibuk membangun relasi dengan komunitas lain yang dijumpainya di dunia “maya”.

Pada dasarnya, setiap keluarga Kristiani diharapkan hidup seturut prinsip-prinsip ataupun nilai-nilai komunitas Kristiani.  Sebagai suatu komunitas Kristiani, setiap keluarga Kristiani diharapkan memperhatikan pentingnya membangun relasi kasih yang didasari kasih Kristus sendiri. Bukti bahwa sebuah keluarga memang hidup atas dasar relasi kasih tersebut adalah apabila masing-masing anggotanya selalu berupaya membangun komunikasi yang baik satu sama lain, saling memperhatikan, saling menghargai dan saling melayani dengan semangat pengorbanan.

Di era digital saat ini, nilai-nilai kehidupan kristiani yang dicita-citakan tersebut ternyata hidup berdampingan dengan nilai-nilai lainnya yang ditawarkan oleh kehidupan dunia modern., antara lain : individualisme, materialisme dan konsumerisme.  Dalam kenyataan dapat dijumpai bahwa pesatnya perkembangan media digital, selain berdampak positif, juga memiliki dampak negatif bagi kehidupan masyarakat. Sebagai bagian dari tehnologi modern, media digital yang dapat mempermudah orang untuk mengakses berbagai informasi dan komunikasi, ternyata juga mampu membangun sikap individualistis seseorang. Melalui media yang tersedia, orang mampu menghadirkan berbagai informasi dari berbagai belahan dunia dan juga berkomunikasi dalam jangkauan yang sangat luas. Segala hal yang secara fisik nampak jauh, ternyata dapat menjadi sangat dekat dan hadir di hadapan setiap orang, hanya melalui media digital yang sudah sangat canggih. Kondisi ini membuat orang merasa sudah tercukupi segala kebutuhannya dan merasa dapat “menggenggam dunia”, hanya dengan keberadaan berbagai media digital yang dimilikinya, sehingga tidak lagi terdorong untuk membangun relasi pribadi dengan yang lain.

Yang menjadi persoalan adalah apabila sikap seperti ini juga dimiliki oleh setiap anggota di dalam sebuah keluarga, sehingga setiap orang tidak lagi merasa perlu membangun relasi pribadi maupun komunitas sebagai keluarga. Setiap orang justru “menyibukkan diri” dengan komunitasnya yang lain, (di luar komunitas keluarganya) dengan relasi yang tidak terlalu mengikat dan juga tidak membebaninya dengan berbagai tuntutan ataupun kewajiban.

Hal lain yang juga memprihatinkan adalah bahwa kehadiran berbagai media, termasuk media digital, seakan makin memperkuat sikap-sikap manusia yang kurang memberi perhatian dan penghargaan terhadap pribadi sesamanya. Dalam hal ini, tindakan kekerasan dan ketidak adilan terhadap sesama manusia, justru sering ditampilkan melalui berbagai media (termasuk media digital), sebagai sesuatu hal yang sudah biasa terjadi di tengah masyarakat. Kondisi seperti ini tentu saja juga turut mempengaruhi nilai-nilai kehidupan dalam masyarakat dan juga di dalam keluarga. Maka dalam kondisi seperti ini, upaya membangun sikap saling mengasihi, sikap saling berbagi dan semangat rela berkorban untuk oranglain yang ingin dibangun dalam kehidupan setiap keluarga Kristiani, bukanlah merupakan upaya yang mudah dilakukan.

Di samping itu semua, tuntutan hidup yang semakin tinggi, mengakibatkan setiap keluarga berjuang keras untuk mempertahankan kehidupannya agar dapat hidup dengan lebih baik dan sejahtera. Hal ini mau tidak mau menyebabkan kehidupan sehari-hari setiap keluarga (terlebih-lebih keluarga di kota besar), sangat diwarnai oleh berbagai kegiatan dan kesibukan, yang juga menyebabkan waktu perjumpaan antar anggota keluarga menjadi semakin terbatas pula.  Sebenarnya dengan kondisi tersebut, semakin jelaslah bahwa setiap keluarga perlu mengupayakan terjadinya perjumpaan antar anggota keluarga dan untuk itu setiap keluarga perlu secara bijak mengatur kualitas dari perjumpaan antar anggota keluarganya masing-masing sehingga relasi dan komunikasi antar anggota keluarga dapat tetap terjalin dengan lebih baik. Namun demikian, di era digital saat ini, perjumpaan antar anggota keluarga banyak “dikalahkan” oleh tawaran-tawaran berbagai media komunikasi yang dianggap lebih menarik, sehingga perjumpaan antar anggota keluarga-pun semakin sulit diwujudkan. Kondisi ini menjadi tantangan bagi Gereja dalam berpastoral di tengah keluarga-keluarga kristiani.

 

Peran dan model katekese untuk keluarga

Salah satu karya pewartaan yang sangat mempengaruhi kehidupan Gereja adalah  karya katekese. Katekese adalah salah satu bagian penting dari keseluruhan proses penginjilan /evangelisasi. Katekese memiliki tujuan untuk mengembangkan, merawat, mematangkan/mendewasakan iman umat melalui proses pengajaran yang diberikan secara sistematis dan terencana, sehingga umat semakin hari dapat hidup dalam kepenuhan imannya akan Yesus Kristus dan hidup seturut teladanNya (CT.20).  Dengan tujuan tersebut, katekese berarti juga memiliki peranan yang penting dalam  membangun Gereja.

Komunitas keluarga Kristiani sebagai bagian dari Gereja, merupakan suatu komunitas yang perlu terus menerus dibangun melalui katekese. Sebagai komunitas yang kecil, keluarga menjadi sarana yang sangat efektif untuk menumbuhkembangkan nilai-nilai Kristiani. Di dalam keluarga, iman Kristiani perlu dikembangkan, dirawat dan dimatangkan, sehingga dapat tumbuh dengan subur dan dengan demikian juga setiap keluarga kristiani mampu menghadapi segala tantangan dunia termasuk tantangan era digital. Dalam hal ini, keluarga Kristiani diharapkan dapat menjadi tanah subur tempat tumbuhnya “benih Kerajaan Allah”. Tanah yang subur memungkinkan benih Kerajaan Allah tersebut sungguh dapat berakar dan berkembang dengan baik, sehingga mampu bertahan terhadap segala tantangan dan badai kehidupan (Bdk.Mrk.4:3-8).

Ayah dan Ibu di dalam keluarga merupakan pendidik utama bagi anak-anaknya. Namun bertolak dari pemikiran bahwa semua anggota keluarga diutus untuk melakukan evangelisasi dan menerima evangelisasi (EN.71) , maka model pendekatan katekese yang kiranya dapat diupayakan dalam keluarga adalah katekese dari keluarga, oleh keluarga dan untuk keluarga. Dalam hal ini, keluarga tidak hanya sekedar menjadi obyek dari katekese yang diupayakan oleh para pewarta (seperti halnya para gembala ataupun katekis), melainkan juga menjadi subyek yang berperan dalam melaksanakan suatu proses katekese.  Dengan kata lain, setiap anggota keluarga dapat menjadi partisipan dan sekaligus pelaku aktif dalam suatu proses katekese keluarga.

Melalui katekese, setiap keluarga dengan segenap anggota keluarganya, diharapkan dapat bersama-sama mencoba menemukan dan mengalami karya Allah dalam seluruh perjalanan kehidupan keluarganya. Proses katekese dapat dilakukan di dalam masing-masing keluarga, ataupun bergabung dengan beberapa keluarga terdekat lainnya.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                         Dalam proses katekese juga diharapkan terjadi komunikasi dan kesaksian iman yang hidup dari masing-masing anggota keluarga sebagai suatu komunitas.

“Manusia modern lebih senang mendengarkan kesaksian daripada para pengajar. Dan bila mereka mendengarkan para pengajar, hal itu disebabkan karena para pengajar tadi merupakan saksi-saksi” (EN.41)

 

Proses saling berbagi pengalaman merupakan sebuah proses yang dalam Pertemuan Kateketik Antar Keuskupan se-Indonesia ke II ( PKKI II) di sebut dengan proses Katekese Umat (KU).  Dalam proses KU, setiap orang dapat mengkomunikasikan imannya ataupun saling bersaksi tentang imannya akan Yesus Kristus sebagai sesama dalam iman yang sederajat  (lihat butir 5 rumus KU dari PKKI II )

Dengan pemikiran bahwa model katekese keluarga perlu melibatkan partisipasi sebanyak mungkin anggota keluarga, maka dalam hal ini, katekese keluarga perlu dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari yang dialami oleh keluarga dan bahkan waktu/kesempatan untuk pertemuan katekesenya dapat dilakukan bersamaan dengan peristiwa-peristiwa penting dalam keluarga seperti halnya peristiwa : kelahiran, ulangtahun salah satu anggota keluarga ataupun ulangtahun perkawinan, penerimaan sakramen-sakramen dalam Gereja, kematian, dsb , di samping juga dapat dilakukan melalui kegiatan-kegiatan yang tidak terlalu formal/resmi, antara lain : melalui acara family gathering, rekreasi keluarga, makan bersama, dsb.

Berkaitan dengan katekese keluarga, perlu juga ditemukan berbagai metode dan sarana katekese yang cocok/sesuai dengan situasi keluarga. Bila model katekese umat yang dipilih dalam proses katekese keluarga, maka tentu saja metode yang dipilih seharusnya metode yang dapat memungkinkan setiap orang untuk berperan serta secara aktif dalam proses katekese dan memungkinkan terciptanya komunikasi banyak arah (bukan komunikasi satu arah) antara lain dengan metode : sharing, melakukan kegiatan bersama, dsb.   Untuk sarana yang digunakan, juga dapat bervariasi sesuai kondisi yang ada.  Mengingat saat ini media komunikasi sosial berkembang dengan sangat pesat, maka katekese keluarga juga kiranya perlu memperhitungkan hal tersebut.  Kemajuan media komunikasi zaman ini, menampilkan berbagai situasi aktual kehidupan manusia dalam berbagai bentuk. Pengalaman-pengalaman hidup manusia, baik yang merupakan kegembiraan , kesusahan dan harapan,  dapat dijumpai dalam berbagai media komunikasi. Maka berkaitan dengan suatu proses katekese zaman ini, penggunaan media komunikasi sosial  dalam katekese diharapkan dapat menjadi sarana yang mendukung para peserta katekese (dalam hal ini keluarga-keluarga)  untuk mengkaji dan mengkritisi pengalaman atau situasi hidupnya yang  konkrit dalam kerangka iman. Kesadaran akan berbagai pengalaman hidup di sekitarnya juga diharapkan dapat menantang setiap keluarga dalam mewujudkan sikap dan perilaku hidup berimannya  di tengah masyarakat.  Tentu saja dalam hal ini penggunaan media tersebut harus digunakan secara tepat dan kritis dalam terang iman Kristiani.

Sementara itu, materi/bahan untuk katekese keluarga, juga dapat bertolak dari segala hal yang menyangkut kehidupan di dalam keluarga, sehingga proses katekese yang terjadi di dalam keluarga dapat sungguh sesuai dengan konteks kehidupan keluarga. Bertolak dari tantangan-tantangan pewartaan iman di tengah keluarga pada era budaya digital , para peserta pertemuan komisi kateketik Regio Jawa tahun 2013 ini juga diharapkan mampu menemukan dan merumuskan tema-tema katekese yang menyapa keluarga di era digital. Beberapa contoh tema untuk materi/bahan katekese yang kiranya perlu dikembangkan untuk menjawab tantangan kehidupan keluarga masa kini, antara lain tema-tema seputar : a) Hidup sebagai komunitas kasih (meliputi : relasi, komunikasi, saling menghargai, saling berbagi, saling mendukung, saling mengampuni, dsb), b) Dasar yang mengikat kehidupan komunitas (meliputi : iman, janji perkawinan, nilai-nilai tradisi, sejarah keluarga, tanggung jawab, hidup doa, hidup dari Sabda, dsb), c) Komunitas yang tidak lepas dari tantangan (meliputi : suka duka hidup komunitas, masalah/cobaan yang dialami keluarga, dsb), d) Komunitas yang bersaksi (meliputi : keteladanan hidup, diutus untuk berperan di tengah masyarakat, kritis terhadap situasi kehidupan, dsb) .

Berkenaan dengan buku pegangan untuk proses katekese keluarga, sebaiknya diusahakan sebuah buku sederhana yang tidak menawarkan suatu proses langkah-langkah katekese yang bersifat detail, melainkan cukup memuat beberapa unsur dari proses kateketis yang perlu dihadirkan dan terjadi dalam suatu kegiatan katekese keluarga. Dengan demikian, setiap keluarga ataupun gabungan beberapa keluarga yang akan melaksanakan suatu proses katekese keluarga, dapat dengan lebih bebas dan leluasa melakukan proses langkah-langkah katekese sesuai dengan konteks dan kebutuhan keluarga yang bersangkutan. Berikut ini adalah contoh format buku pegangan katekese keluarga yang kami usulkan. Secara sederhana buku pegangan dapat mencakup hal-hal sebagai berikut:

 

 

Tema katekese : ……………………………

Tujuan : …………………………..

Pokok-pokok pembicaraan : …………………….. (pointers)

Kitab suci /Ajaran Gereja yang dijadikan dasar : ………………………..

Suasana dan Penghayatan yang diharapkan terjadi : …………………….

Doa yang perlu didoakan bersama : ………………………………………

Sarana dan metode yang mendukung : …………………………………..(usulan saja)

 

Demikianlah kiranya beberapa gagasan pemikiran yang dapat kami sampaikan berkaitan dengan upaya kita bersama dalam mengembangkan katekese keluarga di era digital. Semoga dari hari ke hari, keluarga-keluarga Kristiani sungguh dapat menjadi tempat yang subur bagi tumbuh dan berkembangnya  pewartaan dan pewarisan iman Kristiani.

 

Kepustakaan

 

Dokumen Konsili Vatikan II. Terjemahan R.Hardawirjana SJ. Jakarta : Dokpen KWI dan

Obor, 1993.

Huber, Th.SJ.(editor)..Katekese Umat: Laporan Hasil PKKI II. Jogyakarta : Kanisius,

1981.

 

Komisi Kateketik KWI. Katekese Umat dan Evangelisasi Baru. Yogyakarta: Kanisius, 1995.

Konggregasi Untuk Imam, Petunjuk Umum Katekese, terj.Komkat dan Dokpen KWI,

Jakarta : Dokpen KWI, 2000.

 

Paulus VI. Evangelii Nuntiandi atau Mewartakan Injil ( Imbauan Apostolik tentang Karya

      Pewartaan Injil dalam Jaman Modern) , terjemahan J.Hadiwikarta Pr. Jakarta: Dokpen

KWI, 1999.

 

Paulus VI,  Inter Mirifica. Dokumen Konsili Vatikan II terjemahan R.Hardawiryana SJ.

Jakarta : Dokpen KWI, 1993.

 

Yohanes Paulus II. Familiaris Consortio (Anjuran Apostolik tentang Peranan Keluarga

Kristen dalam dunia Modern, 22 November 1981), terjemahan R.Hardawirjana SJ.

Jakarta, Dokpen KWI, 1994.

 

Yohanes Paulus II. Catechesi Tradendae atau Penyelenggaraan Katekese (Anjuran

Apostolik tentang Katekese Masa Kini, 16 Oktober 1979), terjemahan

R.Hardawirjana SJ. Jakarta: Dokpen KWI, 1995.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

downloadfilmterbaru.xyz nomortogel.xyz aplikasitogel.xyz hasiltogel.xyz paitogel.xyz