EKARISTI ADALAH PERAYAAN KURBAN*)

Oleh: Petrus Danan Widharsana

Meskipun istilah Kurban Misa tidak lagi banyak digunakan dalam percakapan iman, namun hakikat Perayaan Ekaristi sebagai Perayaan Kurban tidak boleh diabaikan, karena kurban merupakan inti dari Perayaan Ekaristi.

Hasrat manusia untuk mempersembahkan kurban kepada Yang Mahatinggi merupakan suatu hal yang hakiki dari kecenderungan religiusnya. Sebagaimana jiwa manusia selalu ditarik untuk menyembah Allah, demikianlah ia juga selalu ditarik untuk mempersembahkan kurban kepada Allah. Sejarah religi / keagamaan umat manusia, menunjukkan hampir semua bangsa dan budaya memberi penghormatan kepada dewa-dewa mereka dengan cara mempersembahkan kurban. Orang Yunani dan Romawi, bangsa Asyur dan Babilonia, Mesir dan Kartago, suku Aztec dan Inca, suku-suku di Indonesia atau budaya Timur lainnya, dan agama-agama besar yang masih ada dewasa ini memberi ruang untuk menyembah Allah (atau dewa) dengan cara mempersembahakan kurban. Dan tentu saja orang Yahudi sendiri menyembah Allah melalui kurban. Dalam Perjanjian Baru diceritakan bagaimana Bunda Maria dan St Yosef, dan dan Tuhan Yesus, menyembah Allah melalui kurban hewan sembelihan. Ketika beribadat kepada Tuhan di Bait Allah, Josef dan Maria mengurbankan dua merpati di hadapan imam di Bait Allah, dan setiap tahun pada perayaan Paskah, Keluarga Kudus pergi ke Yerusalem untuk mengambil bagian dalam kurban anak domba Paskah.

Jika kita membandingkan berbagai macam cara manusia mempersembahkan kurban untuk Allah atau dewa-dewa mereka, kita akan menemukan banyak perbedaan, tetapi juga unsur-unsur tertentu yang sama dari semua jenis kurban. Apa yang kita temukan sebagai sesuatu yang lazim terdapat dalam semua budaya dan religi ini adalah bahwa ketika manusia berkurban, mereka selalu mempersembahkan salah satu dari dua hal ini kepada Allah atau dewa-dewa:

  • Pertama, mereka mempersembahkan hidup seekor binatang (atau bahkan hidup seorang manusia)
  • Kedua, mereka mempersembahkan beberapa jenis makanan dan minuman.

Dengan kata lain persembahan itu diwujdkan dalam bentuk makhluk hidup atau sesuatu yang menopang hidup (seperi makanan dan minuman).  Jika kurban itu berupa hewan, maka hewan itu akan disembelih dengan ritual tertentu, dengan tujuan untuk diberikan kepada Tuhan sebelum dibagikan kepada manusia. Demikian juga jika kurban itu berupa makaan dan minuman, maka pertama-tama diadakan ritual untuk mempersembahkan kurban itu kepada Tuhan, sebelum makanan dan minuman itu dibagikan kepada manusia.

Fakta bahwa manusia dalam perjalanan sejarahnya telah menyembah Tuhan dengan cara berkurban menunjukkan bahwa kecenderungan itu merupakan sesuatu yang kodrati di dalam hati manusia, artnya setiap kali kita berhadapan dengan yang ilahi ada dorongan alamiah dalam diri kita untuk menyembahNya dengan cara berkurban. Pertanyaannya adalah: apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang dimaksud dengan kurban? Dan mengapa secara kodrati kita melakukannya?

Untuk menjawab pertanyaan itu kita bisa mulai dengan apa yang paling jelas tampak dalam kurban, yakni bahwa kurban itu merupakan semacam pemberian atau hadiah. Manusia ingin memberikan kepada Tuhan suatu hadiah dan, tentu saja, hadiah yang terbaik yang bisa mereka upayakan. Hadiah yang terbaik adalah hidup itu sendiri. Itulah hal terbaik yang kita miliki. Karena itulah manusia sepanjang sejarah mempersembahkan kurban dalam bentuk kehidupan (baik binatang maupun manusia) atau makanan dan minuman yang menopang kehidupan.

Pertanyaan berikutnya adalah: mengapa manusia ingin memberikan hadiah kepada Tuhan? Bukankah Tuhan sudah memiliki segalanya yang Ia perlukan? Mungkin pertanyaan ini bisa dijawab dengan merenungkan mengapa kita memberi hadiah satu sama lain. Misalkan seorang bapak marah kepada istrinya, mereka terlibat dalam perdebatan sengit dan ia mengatakan hal-hal yang seharusnya tidak dikatakan. Kemudian ia merasa menyesal dan karena itu dalam perjalanan pulang dari tempat kerja ia membeli bunga mawar dan/atau makanan kesukaan isterinya. Ia datang ke rumah dan membawakan hadiah itu untuk isterinya. Jelas, walaupuan si bapak tidak mengatakan apa-apa, hadiah yang dibawanya sudah mengatakan: “Maafkan aku atas apa yang kukatakan dan aku masih mencintaimu dan aku ingin menebus apa yang telah kulakukan.” Jika si istri kemudian menerima hadiah itu, bapak itu tahu bahwa permintaan maafnya sudah diterima dan terjadilah rekonsiliasi. Tetapi jika isi istri melemparkan hadiah itu ke kotak sampah, ia tahu bahwa permintaan maafnya belum diterima.

Dari contoh sederhana itu kita bisa melihat bagaimana hadiah kita gunakan dalam hidup kita. Hadiah itu bagaikan  pesan dalam rupa materi, dan pesan itu jauh lebih kuat daripada kata-kata. Kita bisa melihat dalam contoh ini tadi, bagaimana hadiah yang dibawa si suami seolah-olah mewakili dirinya. Jika istri menerima hadiah tersebut, berarti ia menerimanya, namun jika si isteri  menolak hadiah tersebut itu berarti dirinya ditolak, belum terjadi rekonsiliasi.

Tentu ada banyak alasan lain mengapa kita memberi hadiah satu sama lain. Kita memberikan hadiah untuk menunjukkan rasa terima kasih kita, atau karena kita ingin meminta bantuan, atau kadang-kadang kita memberikan hadiah hanya untuk memberitahu bahwa kita menghargai orang itu. Dalam semuanya itu, ketika kita memberikan hadiah kepada seseorang, kita ingin mengambil hatinya atau secara lebih umum, kita ingin bersatu dengan orang itu. Setiap hadiah mengungkapkan keinginan seseorang untuk bersatu dengan si penerima hadiah. Ada sesuatu yang sangat manusiawi terkait dengan pemberian hadiah satu sama lain; dan hadiah merupakan sarana yang ampuh untuk menciptakan ikatan yang kuat antar manusia. Dari sinilah kita bisa menarik kesimpulan mengapa manusia mempunyai kecenderungan untuk mempersembahkan kurban kepada Tuhan. Manusia ingin mengambil hati Tuhan, manusia ingin bersatu dengan Tuhan.

Kita tahu dariwahyu yang disampaikan Allahkepadaorang-orang Yahudibahwa Iaingin disembah lewat kurban. Akan tetapi meskipunorang-orang YahudimengenalAllah yang benardan mempersembahkan kepada-Nyakurban yang Ia perintahkan, toh kurban-kurban itu tidak dapatmengambil hatiAllahsedemikian rupa sampai mampu memulihkan kembalipersatuan denganAllahyang hilangakibat dosa Adamdan Hawa diTaman Eden.

Ada dua alasan mengapa kurban Perjanjian Lama tidak dapat menebus dosa manusia dan memulihkan rahmat dan persahabatan Allah yang hilang oleh nenek moyang pertama kita: Pertama, karena kurban yang mereka persembahkan tidak sempurna; kurban mereka hanyalah hewan atau makanan dan minuman. Kehidupan binatang bukanlah pemberian yang mampu mengembalikan manusia kepada persatuan mesra dengan Allah seperti yang dimiliki oleh Adam dan Hawa sebelum mereka jatuh dalam dosa. Kedua, karena orang yang mempersembahkan kurban adalah manusia yang berdosa. Yang diperlukan untuk mendamaikan Allah dengan manusia adalah kurban sempurna, dan Imam Besar yang sempurna. Dan, tentu saja, inilah yang persis kita miliki dalam kurban Kristus di kayu salib. Kristus, yang adalah Allah dan Manusia, memberikan diri-Nya sebagai kurban kepada Bapa demi pengampunan dosa seluruh umat manusia.

Dan malam sebelum wafatNya, Tuhan kita melembagakan imamat Perjanjian Baru dan Sakramen Ekaristi agar Gereja-Nya bisa selalu menghadirkan kembali dan mempersembahkan kepada Allah kurban agung satu-satunya Yesus Kristus pada kayu salib. Perayaan Ekaristi adalah satu-satunya kurban yang benar. Seperti kita lihat, keinginan manusia untuk menyembah Allah melalui kurban merupakan kodrat yang dimilikinya, dan sekarang Tuhan memberikan kita sarana untuk menyalurkan keinginan bawaan kita untuk mempersembahkan kurban yang terbaik kepadaNya. Sekarang Ia telah membuka jalan  bagi kita untuk mempersembahkan hadiah yang sempurna, yakni AnakNya yang tunggal, yang rela menjadikan diriNya sebagai kurban yang hidup. Dalam semua budaya kuno dimana kurban juga dipersembahkan, orang tidak pernah bisa yakin apakah kurban mereka berkenan kepada Allah, apakah kurban mereka berhasil mengambil hati Allah. Bagi kita tidak ada sama sekali keraguan apakah Allah senang dengan kurban kita, sebab kebangkitan Yesus dari alam maut menjadi bukti yang nyata bahwa kurban Yesus adalah kurban yang berkenan pada Allah. Karena itu, setiap kali kurban itu dihadirkan kembali sesuai dengan pesannya, hal yang sama akan terjadi.

Maka, merayakan Ekaristi memerlukan disposisi batin yang tepat. Pertama, kita perlu menyadari bahwa kita mendapatkan keistimewaan untuk menggabungkan diri kita yang berdosa ini dalam kurban Kristus yang sempurna, sehingga bergabung dengan kurban Kristus itu, kurban kita tetap berkenan kepada Allah. Kedua, kita harus benar-benar berpartisipasi secara aktif dalam upacara kurban ini dengan cara menghayati setiap doa, baik yang kita ucapkan maupun yang diucapkan imam, sebagai doa pribadi kita. Ketiga, sebagai kurban sempurna Kristus berkenan membagikan tubuh dan darahnya untuk kita santap sebagai tanda persatuan kita dengan Tritunggal Mahakudus. Maka Kristus memberikan jaminan “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman.” (Yoh 6:54-55).

Konsili Vatikan II mendorong umat beriman untuk berpartisipasi aktif dalam liturgi Ekaristi dan tidak hanya “sebagai orang luar atau penonton yang bisu, melainkan supaya melalui upacara dan doa-doa memahami misteri itu dengan baik, dan ikut serta penuh khidmat dan secara aktif.” (SC 48). Masih banyak hal lain yang perlu diperhatikan, namun yang paling penting adalah: kita mempersembahkan kurban Kristus yang dihadirkan kembali di atas altar, agar kita kita mengabungkan diri kita dalam kurbannya yang membawa persatuan dengan Allah Tritunggal Mahakudus.

 

*) Tulisan ini telah dimuat dalam majalah LITURGI Volume 23, No. 4 tahun 2012, hal. 33-35

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

nomortogelku.xyz